Penerapan Layanan Telefarmasi oleh Apoteker di Apotek Wilayah Surabaya pada Masa Pandemi COVID-19

Alda Khairunnisa, Frenido Aryanto, Bulan Rhea, Martha Ilmi, Nur Milenia, Riska Salfa, Mareta Rindang, Rossa Auli, Sheila Shavira
{"title":"Penerapan Layanan Telefarmasi oleh Apoteker di Apotek Wilayah Surabaya pada Masa Pandemi COVID-19","authors":"Alda Khairunnisa, Frenido Aryanto, Bulan Rhea, Martha Ilmi, Nur Milenia, Riska Salfa, Mareta Rindang, Rossa Auli, Sheila Shavira","doi":"10.20473/jfk.v10i1.32940","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia menyebabkan berbagai perubahan, salah satunya yaitu segi pelayanan kefarmasian di apotek. Pada kondisi pandemi COVID-19, apoteker dituntut tetap melakukan pelayanan kefarmasian secara profesional, yaitu melalui pelayanan telefarmasi. Namun, tidak semua apotek, khususnya di Kota Surabaya, melakukan pelayanan telefarmasi dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian. Dengan banyaknya faktor yang kemungkinan mempengaruhi pelaksanaan telefarmasi, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan layanan telefarmasi di apotek kota Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional  dengan metode pengambilan sampel accidental sampling dengan kriteria inklusi yaitu apoteker yang berpraktek kerja di apotek di wilayah Kota Surabaya. Terdapat 58 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap telefarmasi yang ditunjukkan oleh 97,9% pertanyaan telah terjawab dengan benar. Sebanyak 45 responden (77,6%) telah menerapkan pelayanan telefarmasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan telefarmasi lebih dipengaruhi oleh berbagai hambatan dalam melakukan layanan telefarmasi daripada tingkat pengetahuan telefarmasi yang dimiliki oleh responden. Hambatan terbanyak yang dimiliki oleh responden yang telah menerapkan layanan telefarmasi yaitu kesulitan dalam mengidentifikasi atau menilai kondisi pasien (73,3%). Sedangkan hambatan terbanyak yang menyebabkan responden belum menerapkan layanan telefarmasi yaitu kekhawatiran responden terkait informasi obat yang tidak tersampaikan dengan baik dan benar (53,8%). Apoteker di wilayah Kota Surabaya telah memiliki pengetahuan yang baik terhadap telefarmasi. Sehingga, banyak dari apoteker tersebut telah menerapkan telefarmasi. Hambatan dalam penerapan telefarmasi dialami oleh apoteker yang menerapkan telefarmasi dan yang belum menerapkannya.","PeriodicalId":31942,"journal":{"name":"Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas","volume":"361 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-05-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.20473/jfk.v10i1.32940","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia menyebabkan berbagai perubahan, salah satunya yaitu segi pelayanan kefarmasian di apotek. Pada kondisi pandemi COVID-19, apoteker dituntut tetap melakukan pelayanan kefarmasian secara profesional, yaitu melalui pelayanan telefarmasi. Namun, tidak semua apotek, khususnya di Kota Surabaya, melakukan pelayanan telefarmasi dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian. Dengan banyaknya faktor yang kemungkinan mempengaruhi pelaksanaan telefarmasi, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan layanan telefarmasi di apotek kota Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional  dengan metode pengambilan sampel accidental sampling dengan kriteria inklusi yaitu apoteker yang berpraktek kerja di apotek di wilayah Kota Surabaya. Terdapat 58 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap telefarmasi yang ditunjukkan oleh 97,9% pertanyaan telah terjawab dengan benar. Sebanyak 45 responden (77,6%) telah menerapkan pelayanan telefarmasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan telefarmasi lebih dipengaruhi oleh berbagai hambatan dalam melakukan layanan telefarmasi daripada tingkat pengetahuan telefarmasi yang dimiliki oleh responden. Hambatan terbanyak yang dimiliki oleh responden yang telah menerapkan layanan telefarmasi yaitu kesulitan dalam mengidentifikasi atau menilai kondisi pasien (73,3%). Sedangkan hambatan terbanyak yang menyebabkan responden belum menerapkan layanan telefarmasi yaitu kekhawatiran responden terkait informasi obat yang tidak tersampaikan dengan baik dan benar (53,8%). Apoteker di wilayah Kota Surabaya telah memiliki pengetahuan yang baik terhadap telefarmasi. Sehingga, banyak dari apoteker tersebut telah menerapkan telefarmasi. Hambatan dalam penerapan telefarmasi dialami oleh apoteker yang menerapkan telefarmasi dan yang belum menerapkannya.
在科维-19大流行期间,泗水地区药房的药剂师使用了电视药学服务
印度尼西亚发生的COVID-19大流行引发了许多变化,其中之一就是药房的法医学服务。在COVID-19大流行的情况下,药剂师被要求继续通过电视服务进行专业的药物服务。然而,并不是所有的药店,特别是在泗水市,都有制药业服务。由于有许多可能影响电视业的因素,本研究的目的是确定泗水市药店的使用情况。该研究是一项多分段研究,采用了在泗水地区药剂师执业的渗透条件样本提取方法。58名受访者参与了这项研究。大多数受访者对电传非常了解,97.9%的问题都得到了正确的回答。多达45名受访者(77.6%)已经申请了电信服务。研究表明,参与制药业的障碍比受访者拥有的制药业知识水平更大。对接受电信服务的受访者来说,最大的障碍是无法识别或评估病人的情况(73.3%)。然而,导致受访者没有实施电传服务的最大障碍是他们对不正确和正确的药物信息的担忧(53.8%)。泗水县的药剂师对电视药效有很好的了解。因此,许多药剂师都在使用电视。从事制药业的药剂师遇到了制药业的障碍,而那些还没有实施制药业的药剂师也遇到了制药业的障碍。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
8
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书