{"title":"Marsipature Hutana Be: Menuju Model Pembangunan Ekonomi Demi Perubahan Sosial Baru Masyarakat di Tanah Batak","authors":"Ratna Saragih","doi":"10.30648/dun.v7i1.913","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Abstract. For the Batak people, land is an identity. Land is the ancestor and home of the Batak people, so there are often prolonged conflicts and even bloodshed triggered by land claims. This love for land is the background for the Marsipature Hutana Be development movement. For this study, an attempt is made to read social reality with a sociological and theological perspective based on empirical and historical facts. This study aims to describe and identify issues of development and social change in the Batak Land. This study used appreciative inquiry approach with participatory methods and phenomenology. The results of this study are that in order to encourage the acceleration of economic development without leaving the local identity of the community, Christian theology must cooperate ecumenically with local philosophy.Abstrak. Bagi orang Batak, tanah adalah identitas. Tanah adalah leluhur dan rumah bagi orang Batak, sehingga kerapkali terjadi konflik berkepanjangan bahkan pertumpahan darah yang dipicu oleh klaim atas tanah. Kecintaan akan tanah itu melatarbelakangi gerakan pembangunan Marsipature Hutana Be. Untuk studi ini diupayakan membaca realitas sosial dengan perspektif sosiologis dan teologis berpijak pada fakta empiris dan historis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengidentifikasi isu pembangunan dan perubahan sosial di Tanah Batak. Penelitian ini menggunakan pendekatan appreciative inquiry dengan metode partisipatif dan fenomenologi. Hasil penelitian ini adalah bahwa dalam rangka mendorong percepatan pembangunan ekonomi dengan tanpa meninggalkan identitas lokal masyarakat, maka Teologi Kristen harus bekerjasama secara oikumenis dengan falsafah lokal.","PeriodicalId":32879,"journal":{"name":"Dunamis Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2022-10-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Dunamis Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.30648/dun.v7i1.913","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Abstract. For the Batak people, land is an identity. Land is the ancestor and home of the Batak people, so there are often prolonged conflicts and even bloodshed triggered by land claims. This love for land is the background for the Marsipature Hutana Be development movement. For this study, an attempt is made to read social reality with a sociological and theological perspective based on empirical and historical facts. This study aims to describe and identify issues of development and social change in the Batak Land. This study used appreciative inquiry approach with participatory methods and phenomenology. The results of this study are that in order to encourage the acceleration of economic development without leaving the local identity of the community, Christian theology must cooperate ecumenically with local philosophy.Abstrak. Bagi orang Batak, tanah adalah identitas. Tanah adalah leluhur dan rumah bagi orang Batak, sehingga kerapkali terjadi konflik berkepanjangan bahkan pertumpahan darah yang dipicu oleh klaim atas tanah. Kecintaan akan tanah itu melatarbelakangi gerakan pembangunan Marsipature Hutana Be. Untuk studi ini diupayakan membaca realitas sosial dengan perspektif sosiologis dan teologis berpijak pada fakta empiris dan historis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengidentifikasi isu pembangunan dan perubahan sosial di Tanah Batak. Penelitian ini menggunakan pendekatan appreciative inquiry dengan metode partisipatif dan fenomenologi. Hasil penelitian ini adalah bahwa dalam rangka mendorong percepatan pembangunan ekonomi dengan tanpa meninggalkan identitas lokal masyarakat, maka Teologi Kristen harus bekerjasama secara oikumenis dengan falsafah lokal.
摘要对巴塔克人来说,土地是一种身份。土地是巴塔克人的祖先和家园,因此经常因土地要求而引发长期冲突甚至流血事件。这种对土地的热爱是Hutana Be开发运动的背景。本研究尝试以社会学和神学的视角,基于经验和历史事实来解读社会现实。本研究旨在描述和识别巴塔克土地的发展和社会变革问题。本研究采用欣赏探究的方法,并结合参与方法和现象学。本文的研究结果表明,为了促进经济的加速发展,同时又不脱离社区的地方认同,基督教神学必须与地方哲学进行合一的合作。Bagi orang Batak, tanah adalah identitas。我的女儿,我的女儿,我的女儿,我的女儿,我的女儿,我的女儿,我的女儿,我的女儿。我的名字是我的名字,我的名字是我的名字。从社会学的角度看,社会心理学的角度看,社会行为学的角度看,社会行为学的角度看,社会行为学的角度看,社会行为学的角度看,社会行为学的角度看,社会行为学的角度看,经验学的角度看,历史的角度看。Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengidfikasi isu pembangunan dan perubahan social di Tanah Batak。Penelitian ini mongunakan pendekatan欣赏探究登根方法参与与现象学。Hasil penelitian ini adalah bahwa dalam rangka mendorong percepatan pembangunan ekonomi dengan tanpa meninggalkan identias local masyarakat, maka Teologi Kristen harus bekerjasama secara oikumenis dengan falsafah local。