Kesenjangan Manajemen Anestesi pada Seksio Sesarea dengan Placenta Akreta di RS Dr. Saiful Anwar Malang: Sebuah Pembelajaran

Dian Prima, Isngadi Isngadi
{"title":"Kesenjangan Manajemen Anestesi pada Seksio Sesarea dengan Placenta Akreta di RS Dr. Saiful Anwar Malang: Sebuah Pembelajaran","authors":"Dian Prima, Isngadi Isngadi","doi":"10.47507/obstetri.v7i2.152","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Plasenta akreta (plasenta yang melekat secara abnormal) adalah salah satu dari dua penyebab perdarahan peripartum yang paling umum dengan jumlah perdarahan yang banyak, sehingga menjadi penyebab untuk dilakukan histerektomi peripartum. Perdarahan saat persalinan dengan seksio sesarea pada maternal dengan plasenta akreta di RS Dr Saiful Anwar Malang rata-rata adalah: 3000–4000cc lebih banyak daripada maternal bukan plasenta akreta. Keadaan tersebut sering menjadi penyebab perubahan manajemen anestesi; yang semula direncanakan dengan regional anestesi harus dikonversi ke anestesi umum, begitu juga tatalaksana pembedahannya sering mengalami perubahan dan harus konsul disiplin ilmu lain durante operasi. Oleh karena itu, maternal dengan plasenta akreta yang telah terdiagnosis perlu pendekatan multidisiplin agar luaran pasca persalinan menjadi lebih baik. Akan tetapi sering terjadi kesenjangan manajemen anestesi pada pasien plasenta akreta yang dilakukan seksio sesarea. Kasus: wanita berusia 35 tahun dengan plasenta akreta, berat badan 73 kg, G3P2A0, menjalani seksio sesarea elektif. Anestesi Combined Spinal Epidural (CSE) dilakukan dan setelah bayi lahir, pasien mengalami perdarahan aktif 5000–15.000cc dalam waktu 30 menit pertama. Manajemen anestesi dirubah ke anestesi umum dan histerektomi dilakukan. Selama operasi, ditemukan plasenta yang mengalami infiltrasi hingga vena iliaka. Pasien akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat perdarahan masif selama operasi. Mayoritas pasien dengan plasenta akreta dilakukan histerektomi. Karena USG tidak dapat menegakkan diagnosis secara pasti, diagnosis hanya dapat ditentukan selama pembedahan. Dalam kasus ini, sulitnya diagnosis dan adanya komplikasi anatomis membuat pembedahan menjadi sulit dan akhirnya menyebabkan kematian pada pasien","PeriodicalId":473508,"journal":{"name":"Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia","volume":"74 7","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2024-07-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia","FirstCategoryId":"0","ListUrlMain":"https://doi.org/10.47507/obstetri.v7i2.152","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Plasenta akreta (plasenta yang melekat secara abnormal) adalah salah satu dari dua penyebab perdarahan peripartum yang paling umum dengan jumlah perdarahan yang banyak, sehingga menjadi penyebab untuk dilakukan histerektomi peripartum. Perdarahan saat persalinan dengan seksio sesarea pada maternal dengan plasenta akreta di RS Dr Saiful Anwar Malang rata-rata adalah: 3000–4000cc lebih banyak daripada maternal bukan plasenta akreta. Keadaan tersebut sering menjadi penyebab perubahan manajemen anestesi; yang semula direncanakan dengan regional anestesi harus dikonversi ke anestesi umum, begitu juga tatalaksana pembedahannya sering mengalami perubahan dan harus konsul disiplin ilmu lain durante operasi. Oleh karena itu, maternal dengan plasenta akreta yang telah terdiagnosis perlu pendekatan multidisiplin agar luaran pasca persalinan menjadi lebih baik. Akan tetapi sering terjadi kesenjangan manajemen anestesi pada pasien plasenta akreta yang dilakukan seksio sesarea. Kasus: wanita berusia 35 tahun dengan plasenta akreta, berat badan 73 kg, G3P2A0, menjalani seksio sesarea elektif. Anestesi Combined Spinal Epidural (CSE) dilakukan dan setelah bayi lahir, pasien mengalami perdarahan aktif 5000–15.000cc dalam waktu 30 menit pertama. Manajemen anestesi dirubah ke anestesi umum dan histerektomi dilakukan. Selama operasi, ditemukan plasenta yang mengalami infiltrasi hingga vena iliaka. Pasien akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat perdarahan masif selama operasi. Mayoritas pasien dengan plasenta akreta dilakukan histerektomi. Karena USG tidak dapat menegakkan diagnosis secara pasti, diagnosis hanya dapat ditentukan selama pembedahan. Dalam kasus ini, sulitnya diagnosis dan adanya komplikasi anatomis membuat pembedahan menjadi sulit dan akhirnya menyebabkan kematian pada pasien
马朗赛义夫-安瓦尔医生医院剖腹产胎盘的麻醉管理漏洞:经验教训
胎盘早剥(胎盘异常附着)是围产期大出血最常见的两个原因之一,出血量大,是围产期子宫切除术的一个原因。在赛义夫-安瓦尔医生医院(Dr Saiful Anwar Hospital Malang),患有胎盘早剥的产妇在剖腹产过程中的出血量平均为 3000-4000cc:比未发生胎盘滞留的产妇平均多出3000-4000cc。这种情况往往会导致麻醉管理发生变化;原本计划采用区域麻醉的产妇必须转为全身麻醉,而手术管理也往往会发生变化,在手术过程中必须咨询其他学科。因此,确诊为胎盘早剥的产妇需要采用多学科方法,以获得更好的产后效果。然而,对于接受剖宫产手术的胎盘早剥患者,麻醉管理往往存在漏洞。 病例:35 岁产妇,胎盘早剥,体重 73 公斤,G3P2A0,接受择期剖宫产手术。进行了脊柱硬膜外联合麻醉(CSE),婴儿出生后,患者在最初的 30 分钟内出现了 5000-15000cc 的活动性出血。麻醉管理改为全身麻醉,并进行了子宫切除术。手术过程中,发现胎盘浸润至髂静脉。由于手术中大出血,患者最终被宣布死亡。大多数胎盘早剥患者都会接受子宫切除术。由于超声波无法做出明确诊断,因此只能在手术中确定诊断。在本病例中,由于诊断困难和解剖并发症的存在,给手术带来了困难,最终导致患者死亡。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
0
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书