Spatial Mapping And Analysis Of The Harvest Time Determination Of Paddy (Oryza sativa L.) Using The Thermal Unit Of The Southeast Minahasa Regency

Nadia Jovanka Rombe, J. E. Rogi, Jeanne M. Paulus, F. Paat
{"title":"Spatial Mapping And Analysis Of The Harvest Time Determination Of Paddy (Oryza sativa L.) Using The Thermal Unit Of The Southeast Minahasa Regency","authors":"Nadia Jovanka Rombe, J. E. Rogi, Jeanne M. Paulus, F. Paat","doi":"10.35791/jat.v5i1.54044","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"\n\n\n\nClimate change since 2019 has had a significant impact on paddy plant growth, presenting new challenges in optimizing food production. An effective approach in determining the harvest timing is the Thermal Unit Concept, which takes into account the accumulation of daily temperature during the rice plant's growth. Spatial mapping using Geographic Information System (GIS) is employed to analyze land conditions and heat requirements in paddy cultivation. The mapping results are valuable for planning, cultivation, governmental policy-making, and dissemination to farmers. This research was conducted from August to November in the Rasi Village, Southeast Minahasa, North Sulawesi Province. Data collection involved observing the phenology of rice plants, recording coordinates of planting and harvesting locations, and digitizing Landsat images using SAS Planet and ArcGIS 10.8. Daily temperature analysis was carried out to obtain thermal unit values. The digitized map revealed the paddy field area in Southeast Minahasa Regency to be 3,002.621 hectares, distributed across all sub-districts. The sub-district with the largest paddy field area was North Tombatu, covering 521.362 hectares, while South Touluaan had the smallest area at 32.142 hectares. The Thermal Unit analysis indicated that Southeast Minahasa Regency/Rasi requires 1,285.11 thermal units, with varying heat requirements in each growth phase. During the seeding-planting phase, paddy plants need 292.79 °C, seedling-transplanting 460.04 °C, seedling-anthesis, and heading 217.57 °C, and during the anthesis and heading-harvest phase, paddy plants require 314.71 °C.\nKeywords: Spatial Mapping, Thermal Unit, Paddy (Oryza sativa L.)\nAbstrak\nPerubahan iklim yang terjadi sejak tahun 2019 telah memberikan dampak signifikan pada pertumbuhan tanaman padi, menghadirkan tantangan baru dalam mengoptimalkan produksi pangan. Pendekatan efektif dalam menentukan waktu panen adalah Konsep Thermal Unit, yang memperhitungkan akumulasi suhu harian selama pertumbuhan tanaman padi. Pemetaan spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis digunakan untuk menganalisis kondisi lahan dan kebutuhan panas dalam pertanian padi. Hasil pemetaan ini berguna untuk perencanaan, pembudidayaan, serta pengambilan kebijakan pemerintah dan disosialisasikan kepada petani. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – November di Desa Rasi, Minahasa Tenggara Provinsi Sulawesi Utara. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan pengamatan fenologi tanaman padi, mengambil titik koordinat lokasi dan waktu/tanggal semai-panen tanaman padi, kemudian dilakukan digitasi Citra Landsat, Sas Planet ArcGIS 10.8 dan menganalisis suhu harian untuk mendapatkan nilai thermal unit. Hasil digitasi peta mendapatkan luas sawah di kabupaten Minahasa Tenggara sebesar 3.002,621 ha yang tersebar diseluruh kecamatan yang ada di Minahasa Tenggara, Kecamatan yang memiliki luas lahan sawah terbesar yaitu kecamatan Tombatu Utara sebesar 521,362 ha, sedangkan untuk kecamatan dengan luas lahan terkecil yaitu Touluaan Selatan sebesar 32,142 ha. Hasil analisis Thermal Unit menunjukan bahwa kabupaten Minahasa Tenggara / Rasi : 1.285,11 d0C, dengan jumlah kebutuhan panas yang berbeda-beda disetiap fasenya. Pada fase semai – tanam, tanaman padi memerlukan 292,79 d0C, tanam-anakan 460,04 d0C, anakan – anthesis dan bunting 217,57 d0C, serta pada fase anthesis dan bunting – panen tanaman padi memerlukan 314,71 d0C.\n\n\n\n\nKata Kunci : Pemetaan Spasial, Thermal Unit, Padi (Oryza sativa L).","PeriodicalId":408479,"journal":{"name":"Jurnal Agroekoteknologi Terapan","volume":"7 6","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2024-01-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Agroekoteknologi Terapan","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.35791/jat.v5i1.54044","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Climate change since 2019 has had a significant impact on paddy plant growth, presenting new challenges in optimizing food production. An effective approach in determining the harvest timing is the Thermal Unit Concept, which takes into account the accumulation of daily temperature during the rice plant's growth. Spatial mapping using Geographic Information System (GIS) is employed to analyze land conditions and heat requirements in paddy cultivation. The mapping results are valuable for planning, cultivation, governmental policy-making, and dissemination to farmers. This research was conducted from August to November in the Rasi Village, Southeast Minahasa, North Sulawesi Province. Data collection involved observing the phenology of rice plants, recording coordinates of planting and harvesting locations, and digitizing Landsat images using SAS Planet and ArcGIS 10.8. Daily temperature analysis was carried out to obtain thermal unit values. The digitized map revealed the paddy field area in Southeast Minahasa Regency to be 3,002.621 hectares, distributed across all sub-districts. The sub-district with the largest paddy field area was North Tombatu, covering 521.362 hectares, while South Touluaan had the smallest area at 32.142 hectares. The Thermal Unit analysis indicated that Southeast Minahasa Regency/Rasi requires 1,285.11 thermal units, with varying heat requirements in each growth phase. During the seeding-planting phase, paddy plants need 292.79 °C, seedling-transplanting 460.04 °C, seedling-anthesis, and heading 217.57 °C, and during the anthesis and heading-harvest phase, paddy plants require 314.71 °C. Keywords: Spatial Mapping, Thermal Unit, Paddy (Oryza sativa L.) Abstrak Perubahan iklim yang terjadi sejak tahun 2019 telah memberikan dampak signifikan pada pertumbuhan tanaman padi, menghadirkan tantangan baru dalam mengoptimalkan produksi pangan. Pendekatan efektif dalam menentukan waktu panen adalah Konsep Thermal Unit, yang memperhitungkan akumulasi suhu harian selama pertumbuhan tanaman padi. Pemetaan spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis digunakan untuk menganalisis kondisi lahan dan kebutuhan panas dalam pertanian padi. Hasil pemetaan ini berguna untuk perencanaan, pembudidayaan, serta pengambilan kebijakan pemerintah dan disosialisasikan kepada petani. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – November di Desa Rasi, Minahasa Tenggara Provinsi Sulawesi Utara. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan pengamatan fenologi tanaman padi, mengambil titik koordinat lokasi dan waktu/tanggal semai-panen tanaman padi, kemudian dilakukan digitasi Citra Landsat, Sas Planet ArcGIS 10.8 dan menganalisis suhu harian untuk mendapatkan nilai thermal unit. Hasil digitasi peta mendapatkan luas sawah di kabupaten Minahasa Tenggara sebesar 3.002,621 ha yang tersebar diseluruh kecamatan yang ada di Minahasa Tenggara, Kecamatan yang memiliki luas lahan sawah terbesar yaitu kecamatan Tombatu Utara sebesar 521,362 ha, sedangkan untuk kecamatan dengan luas lahan terkecil yaitu Touluaan Selatan sebesar 32,142 ha. Hasil analisis Thermal Unit menunjukan bahwa kabupaten Minahasa Tenggara / Rasi : 1.285,11 d0C, dengan jumlah kebutuhan panas yang berbeda-beda disetiap fasenya. Pada fase semai – tanam, tanaman padi memerlukan 292,79 d0C, tanam-anakan 460,04 d0C, anakan – anthesis dan bunting 217,57 d0C, serta pada fase anthesis dan bunting – panen tanaman padi memerlukan 314,71 d0C. Kata Kunci : Pemetaan Spasial, Thermal Unit, Padi (Oryza sativa L).
利用东南部米纳哈萨地区的热量单位确定水稻(Oryza sativa L.)收获时间的空间测绘与分析
2019 年以来的气候变化对水稻植株的生长产生了重大影响,为优化粮食生产带来了新的挑战。热量单位概念是确定收割时间的一种有效方法,它考虑了稻株生长过程中的日积温。利用地理信息系统(GIS)绘制空间分布图,分析水稻种植的土地条件和热量需求。测绘结果对规划、种植、政府决策和向农民宣传都很有价值。这项研究于 8 月至 11 月在北苏拉威西省米纳哈萨东南部的拉西村进行。数据收集工作包括观察水稻植株的物候期、记录种植和收割地点的坐标,以及使用 SAS Planet 和 ArcGIS 10.8 对 Landsat 图像进行数字化处理。对每日温度进行分析,以获得热量单位值。数字化地图显示,米纳哈萨东南地区的水稻田面积为 3,002,621 公顷,分布在所有分区。水稻田面积最大的分区是北通巴图(North Tombatu),占地 521,362 公顷,而南图鲁安(South Touluaan)的水稻田面积最小,为 32,142 公顷。热量单位分析表明,米纳哈萨东南行政区/拉西需要 1,285.11 个热量单位,每个生长阶段的热量需求各不相同。在播种-插秧阶段,水稻植株需要 292.79 °C,出苗-移栽阶段需要 460.04 °C,出苗-开花和抽穗阶段需要 217.57 °C,而在开花和抽穗-收获阶段,水稻植株需要 314.71 °C:空间分布图 热量单位 水稻(Oryza sativa L. AbstractClimate change that occurred since 2019 has had a significant impact on rice plant growth, presenting new challenges in optimising food production.热量单位概念是确定收割时间的一种有效方法,它考虑了水稻生长过程中的日积温。利用地理信息系统绘制的空间分布图可用于分析水稻种植的土地状况和热量需求。测绘结果有助于规划、种植和政府政策制定,并向农民推广。这项研究于 8 月至 11 月在北苏拉威西省米纳哈萨东南部的拉西村进行。数据收集工作是通过观察水稻植株的物候期、获取位置坐标和水稻植株出苗-收割的时间/日期,然后将 Landsat 图像数字化、Saset Planet ArcGIS 10.8 并分析每日温度以获取热量单位值。地图数字化的结果显示,米纳哈萨东南部地区的水稻田面积为 3,002.621 公顷,分布在米纳哈萨东南部的所有分区,其中水稻田面积最大的分区是北通巴图分区,为 521.362 公顷,而土地面积最小的分区是南头路安分区,为 32.142 公顷。热量单位分析结果显示,米纳哈萨东南区/拉西 :1,285.11 d0C,每个阶段的热需求量不同。在育苗-插秧阶段,水稻植株需要 292.79 d0C,插秧-分蘖需要 460.04 d0C,分蘖-开花和抽穗需要 217.57 d0C,开花和抽穗-收获阶段水稻植株需要 314.71 d0C:空间绘图、热量单位、水稻(Oryza sativa L)。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
0
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:481959085
Book学术官方微信