Posisi Sungsang dalam Krisis Perpolitikan di Kesultanan Palembang Awal Abad 19

Farida R. Wargadalem
{"title":"Posisi Sungsang dalam Krisis Perpolitikan di Kesultanan Palembang Awal Abad 19","authors":"Farida R. Wargadalem","doi":"10.29210/020232298","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Masalah dalam tulisan ini adalah “bagaimana posisi Sungsang dalam Konflik Perpolitikan di Kesultanan Palembang Awal Abad 19”. Penulisan ini berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode Sejarah, yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasilnya menunjukkan bahwa Sungsang yang berada di mulut Sungai Musi, sehingga pada dari awal hingga abad 20, khususnya awal abad 19 merupakan satu-satunya pintu masuk memasuki Kesultanan Palembang. Untuk itu maka Sungsang sebagai kawasan terdepan wajib menjaga keamanan, sekaligus menjadi mata-mata bagi penguasa di kota Palembang. Posisi khusus tersebut menempatkan nama pemimpin Sungsang adalah Ngabehi hanya Sungsang pemimpinnya bergelar demikian). Dalam krisis yang terjadi di Kesultanan Palembang, Sungsang otomatis menjadi garda terdepan dalam menghadapi musuh, khusus pada saat Inggris melakukan penyerangan pada tahun 1812. Sayangnya perpolitikan di kesultanan di mana adik Sultan Badaruddin II berambisi menjadi Sultan sehingga berkhianat dan memaksa agar Sungsang tidak dipertahankan. Penutupan Sungsang dilakukan Belanda ketika mereka kalah perang melawan Palembang pada tahun 1819, dengan maksud mematikan Palembang secara ekonomi dan politik. Demi membalas kekalahannya, maka Belanda menyiapkan armada dengan pasukan yang kuat melalui Sungsang menyerang Palembang tahun 1821, sehingga Palembang terpaksa menerima kekalahan. Posisi Sungsang yang sangat strategis, sangat krusial bagi pemilik (Kesultanan Palembang) sehingga harus diperkuat pertahanannya juga manusia yang menjaga harus orang yang dapat dipercaya. Di sisi lain, bagi musuh maka penaklukan Sungsang merupakan tindakan jitu yang membutuhkan persiapan yang prima. Dengan demikian, tempat-tempat strategis dalam kondisi apapun harus dijaga dengan sebaik-baiknya.","PeriodicalId":510476,"journal":{"name":"JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)","volume":"167 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-07-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.29210/020232298","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Masalah dalam tulisan ini adalah “bagaimana posisi Sungsang dalam Konflik Perpolitikan di Kesultanan Palembang Awal Abad 19”. Penulisan ini berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode Sejarah, yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasilnya menunjukkan bahwa Sungsang yang berada di mulut Sungai Musi, sehingga pada dari awal hingga abad 20, khususnya awal abad 19 merupakan satu-satunya pintu masuk memasuki Kesultanan Palembang. Untuk itu maka Sungsang sebagai kawasan terdepan wajib menjaga keamanan, sekaligus menjadi mata-mata bagi penguasa di kota Palembang. Posisi khusus tersebut menempatkan nama pemimpin Sungsang adalah Ngabehi hanya Sungsang pemimpinnya bergelar demikian). Dalam krisis yang terjadi di Kesultanan Palembang, Sungsang otomatis menjadi garda terdepan dalam menghadapi musuh, khusus pada saat Inggris melakukan penyerangan pada tahun 1812. Sayangnya perpolitikan di kesultanan di mana adik Sultan Badaruddin II berambisi menjadi Sultan sehingga berkhianat dan memaksa agar Sungsang tidak dipertahankan. Penutupan Sungsang dilakukan Belanda ketika mereka kalah perang melawan Palembang pada tahun 1819, dengan maksud mematikan Palembang secara ekonomi dan politik. Demi membalas kekalahannya, maka Belanda menyiapkan armada dengan pasukan yang kuat melalui Sungsang menyerang Palembang tahun 1821, sehingga Palembang terpaksa menerima kekalahan. Posisi Sungsang yang sangat strategis, sangat krusial bagi pemilik (Kesultanan Palembang) sehingga harus diperkuat pertahanannya juga manusia yang menjaga harus orang yang dapat dipercaya. Di sisi lain, bagi musuh maka penaklukan Sungsang merupakan tindakan jitu yang membutuhkan persiapan yang prima. Dengan demikian, tempat-tempat strategis dalam kondisi apapun harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
成相在 19 世纪初巴伦望苏丹国政治危机中的地位
本文的问题是 "在 19 世纪早期巴伦邦苏丹国的政治冲突中,宋相的地位如何"。本文以历史学方法(包括启发式、资料批判、解释和历史学)的研究成果为基础。研究结果表明,Sungsang 位于 Musi 河的入海口,因此从 20 世纪初,尤其是 19 世纪初开始,它就是巴伦邦苏丹国的唯一入口。因此,作为最重要的地区,太阳城有义务维护安全,并充当统治者在巴伦邦市的间谍。这一特殊职位使太阳城的首领被称为 Ngabehi(只有太阳城才有这一称号)。在巴邻邦苏丹国发生危机时,特别是在 1812 年英国人进攻时,太阳桑自动成为迎战敌人的前线。不幸的是,在苏丹国的政治中,苏丹巴达鲁丁二世的弟弟野心勃勃地想成为苏丹,因此他背叛了苏丹国,并坚持不保卫双桑。1819 年,荷兰在攻打巴伦邦的战争中战败,他们关闭了双桑,目的是在经济上和政治上封锁巴伦邦。为了报仇雪恨,荷兰人在 1821 年准备了一支拥有强大兵力的舰队,通过双桑进攻巴伦邦,迫使巴伦邦接受战败的事实。太阳城的战略地位对拥有者(巴伦邦苏丹国)来说非常重要,因此必须加强防御,守卫者也必须值得信赖。另一方面,对于敌方来说,攻占双桑是一项精确的行动,需要做好充分的准备。因此,战略要地在任何情况下都必须尽可能严防死守。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
0
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:481959085
Book学术官方微信