Munawiah Abdullah, Nurul Husna, Arif Akbar, Cut Zaenab
{"title":"REFLECTION OF SUFI POCUT DI BEUTONG IN ACEH’S MANUSCRIPT","authors":"Munawiah Abdullah, Nurul Husna, Arif Akbar, Cut Zaenab","doi":"10.22373/al-ijtimaiyyah.v9i2.19983","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Abstrak: Tulisan ini bermaksud untuk mendeskripsikan sosok perempuan sufi di Aceh yang dikenal dengan sebutan Pocut di Butong yang terdapat dalam naskah tersebut. Sejarah panjang tasawuf di Aceh memberikan peranan yang sangat penting bagi masyarakat Aceh. Aceh yang juga dikenal dengan nama Serambi Mekkah, pada saat itu diterapkan syariat Islam. Keberadaan para sufi atau pembawa tasawuf begitu esensialnya agar ajaran tersebut terus berkembang. Sufi di Aceh terkenal di kalangan laki-laki karena sikap mereka yang tidak peduli terhadap perempuan. Di kalangan sufi perempuan, keberadaannya sangat minim dan tidak tertulis dalam sejarah apapun. Yang paling sering disebutkan adalah Rabiah al-Adawiyah, namun sufi perempuan masih perlu lebih banyak dipublikasikan, dan lain halnya jika tokohnya laki-laki. Penelitian ini merupakan tinjauan naskah ‘Munajat Perempuan Sufi Aceh Pocut di Beutong’ mengenai eksistensi dan peran seorang sufi perempuan berinisial Pocut di Beutong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi-puisi dalam buku ‘Munajat Wanita Sufi Aceh’ menjelaskan bahwa keberadaan dan peranan Pocut di Beutong sangat berarti pada masa itu. Hal ini terlihat dari sejarah yang diceritakan dalam buku tersebut mengenai bagaimana Pocut di Beutong turut membantu mempertahankan tanah Aceh dengan berbagai cara, seperti berdoa, mengajar, mengembangkan amalan, dan berupaya mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sama pentingnya dengan Cut Nyak Dien dan pahlawan wanita lainnya yang akan berperang.Kata Kunci: Naskah; Wanita Sufi; Aceh.Abstract: This paper intends to describe the Sufis woman in Aceh, known as Pocut di Butong contained in the manuscript. The long history of Sufism in Aceh provides a crucial role for the people of Acehnese. Aceh, also known as Serambi Mecca, at that time of Islamic law was implemented. The existence of Sufi or carriers of Sufism is so essential that these teachings continue to develop. Sufi in Aceh have been popular with men for their disregard for women. Among female Sufis, their existence is minimal and not written in any history. The most often mentioned is Rabiah al-Adawiyah, but more female Sufis still need to be published, and it is different if the character is male. This study is a manuscript review of ‘Munajat Perempuan Sufi Aceh Pocut di Beutong’ regarding the existence and role of a female Sufis with the initial Pocut di Beutong. The study results show that the poems in the book ‘Munajat Wanita Sufi Aceh’ explain that the existence and role of Pocut di Beutong was very significant at that time. This can be seen from the history recounted in the book regarding how Pocut di Beutong also helped defend the land of Aceh in different ways, such as praying, teaching, developing practice, and attempting to get closer to Allah. This is just as important as Cut Nyak Dien and other female heroes going to war.Keywords: Manuscript; Sufis Woman; Aceh.","PeriodicalId":377305,"journal":{"name":"JURNAL AL-IJTIMAIYYAH","volume":"3 ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"JURNAL AL-IJTIMAIYYAH","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.22373/al-ijtimaiyyah.v9i2.19983","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Abstrak: Tulisan ini bermaksud untuk mendeskripsikan sosok perempuan sufi di Aceh yang dikenal dengan sebutan Pocut di Butong yang terdapat dalam naskah tersebut. Sejarah panjang tasawuf di Aceh memberikan peranan yang sangat penting bagi masyarakat Aceh. Aceh yang juga dikenal dengan nama Serambi Mekkah, pada saat itu diterapkan syariat Islam. Keberadaan para sufi atau pembawa tasawuf begitu esensialnya agar ajaran tersebut terus berkembang. Sufi di Aceh terkenal di kalangan laki-laki karena sikap mereka yang tidak peduli terhadap perempuan. Di kalangan sufi perempuan, keberadaannya sangat minim dan tidak tertulis dalam sejarah apapun. Yang paling sering disebutkan adalah Rabiah al-Adawiyah, namun sufi perempuan masih perlu lebih banyak dipublikasikan, dan lain halnya jika tokohnya laki-laki. Penelitian ini merupakan tinjauan naskah ‘Munajat Perempuan Sufi Aceh Pocut di Beutong’ mengenai eksistensi dan peran seorang sufi perempuan berinisial Pocut di Beutong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi-puisi dalam buku ‘Munajat Wanita Sufi Aceh’ menjelaskan bahwa keberadaan dan peranan Pocut di Beutong sangat berarti pada masa itu. Hal ini terlihat dari sejarah yang diceritakan dalam buku tersebut mengenai bagaimana Pocut di Beutong turut membantu mempertahankan tanah Aceh dengan berbagai cara, seperti berdoa, mengajar, mengembangkan amalan, dan berupaya mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sama pentingnya dengan Cut Nyak Dien dan pahlawan wanita lainnya yang akan berperang.Kata Kunci: Naskah; Wanita Sufi; Aceh.Abstract: This paper intends to describe the Sufis woman in Aceh, known as Pocut di Butong contained in the manuscript. The long history of Sufism in Aceh provides a crucial role for the people of Acehnese. Aceh, also known as Serambi Mecca, at that time of Islamic law was implemented. The existence of Sufi or carriers of Sufism is so essential that these teachings continue to develop. Sufi in Aceh have been popular with men for their disregard for women. Among female Sufis, their existence is minimal and not written in any history. The most often mentioned is Rabiah al-Adawiyah, but more female Sufis still need to be published, and it is different if the character is male. This study is a manuscript review of ‘Munajat Perempuan Sufi Aceh Pocut di Beutong’ regarding the existence and role of a female Sufis with the initial Pocut di Beutong. The study results show that the poems in the book ‘Munajat Wanita Sufi Aceh’ explain that the existence and role of Pocut di Beutong was very significant at that time. This can be seen from the history recounted in the book regarding how Pocut di Beutong also helped defend the land of Aceh in different ways, such as praying, teaching, developing practice, and attempting to get closer to Allah. This is just as important as Cut Nyak Dien and other female heroes going to war.Keywords: Manuscript; Sufis Woman; Aceh.
摘要本文旨在描述手稿中被称为 Pocut di Butong 的亚齐苏菲妇女的形象。苏菲派在亚齐的悠久历史为亚齐人民发挥了非常重要的作用。亚齐也被称为塞兰比-梅卡(Serambi Mekkah),当时实行伊斯兰教法。苏菲或苏菲派传人的存在对伊斯兰教的继续发展至关重要。亚齐的苏菲因对女性漠不关心而在男性中声名狼藉。在女性苏菲中,她们的存在微乎其微,没有任何历史记载。最常被提及的是拉比雅-阿达维耶(Rabiah al-Adawiyah),但女性苏菲仍需要更多的宣传,如果是男性,情况就不同了。本研究是对手稿 "Munajat Perempuan Sufi Aceh Pocut di Beutong "的回顾,内容涉及一位首字母为 Pocut di Beutong 的女性苏菲的存在和角色。研究结果表明,《亚齐苏菲穆纳贾特-瓦尼塔》一书中的诗歌说明了波库特在贝通的存在和作用在当时是非常重要的。这可以从书中讲述的历史中看出,波库特人如何以各种方式帮助保卫亚齐的土地,如祈祷、教导、发展实践和努力接近真主。这与 Cut Nyak Dien 和其他上战场的女英雄一样重要:手稿;苏菲女性;亚齐:本文旨在描述手稿中被称为 Pocut di Butong 的亚齐苏菲妇女。苏菲主义在亚齐的悠久历史为亚齐人提供了至关重要的角色。亚齐又称塞兰比麦加,当时伊斯兰教法正在实施。苏菲或苏菲派传承人的存在至关重要,因此这些教义得以继续发展。亚齐的苏菲因其无视女性而受到男性的欢迎。在女性苏菲中,她们的存在微乎其微,没有任何历史记载。最常被提及的是拉比雅-阿达维耶(Rabiah al-Adawiyah),但仍有更多的女性苏菲需要出版,如果人物是男性,情况就不同了。本研究是对《Munajat Perempuan Sufi Aceh Pocut di Beutong》的手稿审查,内容涉及以 Pocut di Beutong 开头的女性苏菲的存在和作用。研究结果表明,《Munajat Wanita Sufi Aceh》一书中的诗歌说明了 Pocut di Beutong 的存在和作用在当时非常重要。从书中叙述的历史可以看出,Pocut di Beutong 还以不同的方式帮助保卫亚齐的土地,如祈祷、教学、发展实践和努力接近真主。这与 Cut Nyak Dien 和其他上战场的女英雄一样重要:手稿;苏菲派女性;亚齐。