{"title":"HUBUNGAN ANTARA PERILAKU IMPULSIVE BUYING DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA DEWASA AWAL","authors":"Jollyn, Debora Basaria","doi":"10.54783/jser.v5i2.131","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Berkembangnya dunia pemasaran membuat banyak Perusahaan yang melakukan pemasaran dengan ide-ide yang unik dan dapat menarik pelanggan untuk membeli barang produksinya. Hal ini juga menyebabkan kemunculan fenomena impulsive buying, menurut beberapa studi impulsive buying sendiri dapat menimbulkan emosi negatif bagi individu sehingga memiliki dampak yang buruk untuk kehidupan sehari-hari. Impulsive buying sendiri juga sering dialami oleh individu dewasa awal. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara impulsive buying dengan subjective well-being pada dewasa awal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode snowball secara online sesuai kebutuan peneliti. Partisipan dari penelitian ini juga terdiri dari 366 partisipan yang memiliki rentang umur 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur impulsive buying adalah Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) sedangkan subjective well-being menggunakan alat ukur Satisfaction with life scale (SWLS) dan positive affect and negative affect scale (PANAS). Hasil penelitian yang didapat juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara perilaku impulsive buying dengan subjective well-being, dengan nilai r= -.140 dan p= .007 < .05. Hasil lain yang didapatkan juga terdapat hubungan positif antara impulsive buying dengan emosi negatif dan terdapat hubungan yang negatif antara impulsive buying dengan kepuasan hidup dan emosi positif. Hal ini menyatakan bahwa semakin rendah impulsive buying maka semakin tinggi subjective well-being.","PeriodicalId":423751,"journal":{"name":"Journal of Social and Economics Research","volume":"95 8","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-12-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Journal of Social and Economics Research","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.54783/jser.v5i2.131","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Berkembangnya dunia pemasaran membuat banyak Perusahaan yang melakukan pemasaran dengan ide-ide yang unik dan dapat menarik pelanggan untuk membeli barang produksinya. Hal ini juga menyebabkan kemunculan fenomena impulsive buying, menurut beberapa studi impulsive buying sendiri dapat menimbulkan emosi negatif bagi individu sehingga memiliki dampak yang buruk untuk kehidupan sehari-hari. Impulsive buying sendiri juga sering dialami oleh individu dewasa awal. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara impulsive buying dengan subjective well-being pada dewasa awal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan menggunakan teknik nonprobability sampling dengan metode snowball secara online sesuai kebutuan peneliti. Partisipan dari penelitian ini juga terdiri dari 366 partisipan yang memiliki rentang umur 18-25 tahun. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur impulsive buying adalah Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) sedangkan subjective well-being menggunakan alat ukur Satisfaction with life scale (SWLS) dan positive affect and negative affect scale (PANAS). Hasil penelitian yang didapat juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara perilaku impulsive buying dengan subjective well-being, dengan nilai r= -.140 dan p= .007 < .05. Hasil lain yang didapatkan juga terdapat hubungan positif antara impulsive buying dengan emosi negatif dan terdapat hubungan yang negatif antara impulsive buying dengan kepuasan hidup dan emosi positif. Hal ini menyatakan bahwa semakin rendah impulsive buying maka semakin tinggi subjective well-being.