{"title":"Kebangkitan Kristus dan Upaya Membangkitkan Manusia dari Kematian: Telaah Teologis Terhadap Transhumanisme-krionik","authors":"Defrita Rufikasari, Yahya Wijaya","doi":"10.21460/gema.2023.82.960","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"AbstractThe resurrection of Christ is often associated exclusively with the context of Easter, the redemption of the sinful humans, and the hope of the future resurrection of the faithful. The resurrection from the dead is mentioned several times both in the Old and the New Testaments. Interestingly, both Christianity and transhumanism tend to deny death. In terms of Christianity, that is indicated in the theological view of the resurrection of Christ and the believers; while in that of transhumanism the denial of death is implied in thedevelopment of nanotechnology and cryogenics aiming at raising people from the dead. They both promise an incorruptible and antifragile life. But do they share the same meeting point or have a common ground? Can the resurrection of Christ be interpreted from the vision of transhumanism that opens up opportunities for humans to improve their quality of life? This writing describes the views of several thinkers about transhumanism and their relations to theology, especially concerning the issue of the resurrection. The method used is qualitative research with a descriptive model based on a literature study and a public theology approach putting into discussion the existing thoughts on transhumanism, their relationshipswith religions, and the interpretation of Christ’s resurrection as the meeting point of the redemption theology and transhumanism. AbstrakPemaknaan kebangkitan Kristus acapkali hanya dilekatkan dalam konteks Paskah, penebusan dosa manusia dan harapan akan kebangkitan yang sama akan dialami oleh umat beriman. Peristiwa kebangkitan dari kematian sebetulnya beberapa kali muncul dalam Alkitab baik Perjanjian Lama atau Baru. Menariknya, jika dilihat sekilas, baik Kekristenan dan Transhumanisme nampak sama-sama menolak kematian. Kekristenandengan pandangan teologi kebangkitan Kristus dan orang beriman, sedangkan transhumanisme dengan pengembangan nanoteknologi dan kriogenik yang membangkitkan orang dari kematian. Keduanya nampak sama-sama menjanjikan kehidupan yang tidak fana dan rapuh. Namun benarkah keduanya memiliki titik temu yang sama? Memiliki landasan yang sama? Apakah kebangkitan Kristus nantinya akan dapat juga dimaknai dari visi transhumanisme yang membuka peluang bagi manusia meningkatkan kualitas hidupnya? Penulisan ini bertujuan untuk menguraikan pandangan-pandangan beberapa pemikir tentang transhumanisme dan kaitannya dengan teologi, khususnya kebangkitan dari mati. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan model deskriptif berdasarkan studi pustaka dan pendekatan teologi publik untuk mendialogkan pemikiran-pemikiran yang ada terkait topik transhumanisme, relasi dengan agama, dan pemaknaan kebangkitan Kristus sebagai titik temu dari karya penebusan dan transhumanisme.","PeriodicalId":31866,"journal":{"name":"Gema Teologika","volume":"27 3","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-10-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Gema Teologika","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.21460/gema.2023.82.960","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
AbstractThe resurrection of Christ is often associated exclusively with the context of Easter, the redemption of the sinful humans, and the hope of the future resurrection of the faithful. The resurrection from the dead is mentioned several times both in the Old and the New Testaments. Interestingly, both Christianity and transhumanism tend to deny death. In terms of Christianity, that is indicated in the theological view of the resurrection of Christ and the believers; while in that of transhumanism the denial of death is implied in thedevelopment of nanotechnology and cryogenics aiming at raising people from the dead. They both promise an incorruptible and antifragile life. But do they share the same meeting point or have a common ground? Can the resurrection of Christ be interpreted from the vision of transhumanism that opens up opportunities for humans to improve their quality of life? This writing describes the views of several thinkers about transhumanism and their relations to theology, especially concerning the issue of the resurrection. The method used is qualitative research with a descriptive model based on a literature study and a public theology approach putting into discussion the existing thoughts on transhumanism, their relationshipswith religions, and the interpretation of Christ’s resurrection as the meeting point of the redemption theology and transhumanism. AbstrakPemaknaan kebangkitan Kristus acapkali hanya dilekatkan dalam konteks Paskah, penebusan dosa manusia dan harapan akan kebangkitan yang sama akan dialami oleh umat beriman. Peristiwa kebangkitan dari kematian sebetulnya beberapa kali muncul dalam Alkitab baik Perjanjian Lama atau Baru. Menariknya, jika dilihat sekilas, baik Kekristenan dan Transhumanisme nampak sama-sama menolak kematian. Kekristenandengan pandangan teologi kebangkitan Kristus dan orang beriman, sedangkan transhumanisme dengan pengembangan nanoteknologi dan kriogenik yang membangkitkan orang dari kematian. Keduanya nampak sama-sama menjanjikan kehidupan yang tidak fana dan rapuh. Namun benarkah keduanya memiliki titik temu yang sama? Memiliki landasan yang sama? Apakah kebangkitan Kristus nantinya akan dapat juga dimaknai dari visi transhumanisme yang membuka peluang bagi manusia meningkatkan kualitas hidupnya? Penulisan ini bertujuan untuk menguraikan pandangan-pandangan beberapa pemikir tentang transhumanisme dan kaitannya dengan teologi, khususnya kebangkitan dari mati. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan model deskriptif berdasarkan studi pustaka dan pendekatan teologi publik untuk mendialogkan pemikiran-pemikiran yang ada terkait topik transhumanisme, relasi dengan agama, dan pemaknaan kebangkitan Kristus sebagai titik temu dari karya penebusan dan transhumanisme.
【摘要】基督的复活通常只与复活节、罪人的救赎以及信徒未来复活的希望联系在一起。从死里复活在旧约和新约中都被提到过好几次。有趣的是,基督教和超人类主义都倾向于否认死亡。就基督教而言,这体现在基督和信徒复活的神学观点中;而在超人类主义中,否认死亡隐含在纳米技术和低温技术的发展中,旨在使人起死回生。他们都承诺过一种廉洁、反脆弱的生活。但他们是否有相同的会面点或共同点呢?基督的复活能否从为人类提供改善生活质量的机会的超人类主义的视角来解释?这篇文章描述了几位思想家关于超人类主义的观点及其与神学的关系,特别是关于复活的问题。本文采用以文献研究和公共神学为基础的定性研究和描述模式,讨论了现有的超人类主义思想及其与宗教的关系,并将基督的复活解释为救赎神学与超人类主义的交汇点。【摘要】【摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】【中文摘要】我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是,我的意思是。【翻译】:Menariknya, jika dilihat sekilas, baik kekristan dan超人类主义nampak sama-sama menolak kematian。这句话的翻译是:“我们的纳米技术,我们的纳米技术,我们的纳米技术,我们的纳米技术,我们的纳米技术,我们的纳米技术。”Keduanya nampak sama-sama menjanjikan kehidupan yang tidak fana dan rapuh。Namun benarkah keduanya memoriliki titik temu yang sama?记得吗?阿帕卡·克邦基坦·克里斯图斯·南提亚·阿坎达帕特·朱加·迪马克奈达里访问超人道主义杨·曼布卡·佩朗·巴吉·曼布卡·曼纳卡·曼卡塔斯·曼卡塔斯·曼卡塔斯·曼卡塔斯·曼卡塔斯·曼卡塔斯·曼卡塔斯·希普尼亚?这是一种超人类主义,是一种科学技术,是一种科学技术。Metode yang digunakan adalah penpenkatan kualitan dengan model deskriptif berdasarkan studi pustaka dan penpenkatan teologi publik untuk mendialogkan pemikan -pemikiran yang ada terkait topik tranhumanisme, relasi denengan agama, dan pemaknaan kebangkitan Kristus sebagai titik temu dari karya penpenbusan dan tranhumanisme。