{"title":"Validasi Metode Spektrofotometri UV-VIS Untuk Analisis Formalin Menggunakan Pararosanilline HCL Pada Sampel Plasma Darah","authors":"Lindawati Setyaningrum","doi":"10.36858/jkds.v7i1.146","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Formalin adalah sebagai larutan yang mengandung 30% hingga 50% formalin dengan 0,5% hingga 15% metanol sebagai penghambat polimerisasi. Formalin digunakan sebagai penyemprot tanaman (3%) dilakukan agar panen tidak mudah busuk dan layu. Namun hal ini dapat berakibat adanya residu pada tanaman dan hasil panennya yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh ketika dikonsumsi. Formalin sangat berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh. Ambang batas aman formalin pada makanan yang masuk dalam tubuh orang dewasa adalah 1,5-14 mg per hari sedangkan formalin dalam bentuk air minum yang masih bisa ditolerir adalah 0,1 ppm. Oleh karena itu pada penelitian kali ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan residu formalin pada cabai dan darah manusia yang mengkonsumsi hasil panen cabai yang terkontaminasi formalin. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan metode untuk mendeteksi formalin pada cabai dan sampel darah sebagai media deteksi untuk kondisi tubuh yang kemudian direaksikan dengan pararosanillin HCl. Diperoleh hasil reaksi warna merah muda gelap diikuti dengan deteksi metode Spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 539,0 nm. Dari hasil yang diteliti menunjukkan bahwa metode ini mampu mendeteksi formalin pada sampel darah dengan Y = 6,364x - 0,009 dan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,996 dan Vx0 < 2, batas deteksi adalah 0,069 ppm dan batas kuantisasi adalah 0,230 ppm. Hasil akurasi memberikan nilai rata-rata 88,173%. Nilai presisi dinyatakan dengan Deviasi Standar Relatif 1,047%. Sampel cabai yang dikumpulkan dari sekitar gunung bromo terdeteksi dengan hasil rentang konsentrasi formalin dari 2.106 - 4, 667 ppm. namun untuk sampel darah manusia di sekitar lereng gunung bromo tidak ditemukan adanya formalin.","PeriodicalId":385095,"journal":{"name":"Jurnal Kesehatan dr. Soebandi","volume":"74 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2019-04-19","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Kesehatan dr. Soebandi","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.36858/jkds.v7i1.146","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Formalin adalah sebagai larutan yang mengandung 30% hingga 50% formalin dengan 0,5% hingga 15% metanol sebagai penghambat polimerisasi. Formalin digunakan sebagai penyemprot tanaman (3%) dilakukan agar panen tidak mudah busuk dan layu. Namun hal ini dapat berakibat adanya residu pada tanaman dan hasil panennya yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh ketika dikonsumsi. Formalin sangat berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh. Ambang batas aman formalin pada makanan yang masuk dalam tubuh orang dewasa adalah 1,5-14 mg per hari sedangkan formalin dalam bentuk air minum yang masih bisa ditolerir adalah 0,1 ppm. Oleh karena itu pada penelitian kali ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan residu formalin pada cabai dan darah manusia yang mengkonsumsi hasil panen cabai yang terkontaminasi formalin. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan metode untuk mendeteksi formalin pada cabai dan sampel darah sebagai media deteksi untuk kondisi tubuh yang kemudian direaksikan dengan pararosanillin HCl. Diperoleh hasil reaksi warna merah muda gelap diikuti dengan deteksi metode Spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 539,0 nm. Dari hasil yang diteliti menunjukkan bahwa metode ini mampu mendeteksi formalin pada sampel darah dengan Y = 6,364x - 0,009 dan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,996 dan Vx0 < 2, batas deteksi adalah 0,069 ppm dan batas kuantisasi adalah 0,230 ppm. Hasil akurasi memberikan nilai rata-rata 88,173%. Nilai presisi dinyatakan dengan Deviasi Standar Relatif 1,047%. Sampel cabai yang dikumpulkan dari sekitar gunung bromo terdeteksi dengan hasil rentang konsentrasi formalin dari 2.106 - 4, 667 ppm. namun untuk sampel darah manusia di sekitar lereng gunung bromo tidak ditemukan adanya formalin.