PEMANFAATAN BIOMASSA LIGNOSELULOSA PERKEBUNAN SAWIT DAN PRETREATMENT TKS SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN TERNAK POTENSIAL

Muhammad Abdul Aziz
{"title":"PEMANFAATAN BIOMASSA LIGNOSELULOSA PERKEBUNAN SAWIT DAN PRETREATMENT TKS SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN TERNAK POTENSIAL","authors":"Muhammad Abdul Aziz","doi":"10.22302/iopri.war.warta.v28i2.108","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa produksi daging sapi Indonesia dari tahun ke tahun cenderung stagnan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan daging nasional. Upaya pemerintah melalui Permentan No. 48/Permentan/PK.210/10/2016 belum mampu mengatasi masalah tersebut, sementara keberhasilan program swasembada daging selalu dihadapkan pada masalah ketersediaan pakan yang berkualitas dan terjangkau. Berbagai jenis biomassa lignoselulosa sebagai produk samping produksi minyak sawit seperti tandan kosong sawit (TKS), solid palm oil mill effluent (POME), dan bungkil inti sawit (BIS) tersedia dalam jumlah yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara sustain dan massal, padahal potensinya sebagai bahan pakan ruminansia sangat besar. Hal ini karena sumber biomassa tersebut mengandung nutrisi yang cukup tinggi, baik berupa protein maupun lemak. Namun, terdapat beberapa faktor pembatas seperti kandungan lignin dan serat kasar yang tinggi, sehingga menyebabkan rendahnya nilai palatabilitas dan tingkat kecernaan. Untuk mengatasi hal tersebut sekaligus meningkatkan nilai nutrisi biomassa lignoselulosa sebagai bahan pakan dapat dilakukan dengan pretreatment melalui pendekatan kombinasi metode fisik, kimiawi, dan biologis. Metode pretreatment biomassa lignoselulosa seperti TKS menggunakan kombinasi fiber cracking technology (FCT) dan urea 5%, kemudian dilanjutkan dengan fermentasi menggunakan jamur pelapuk putih (JPP) seperti Phanerochaeta chrysosporium, Marasmius sp., Penicillium verruculosum, Tremetes vesicolor, Marasmiellus palmivorus, Pleurotus floridanus, dan Ganoderma lucidum merupakan pendekatan yang potensial dalam meningkatkan derajat delignifikasi dan nilai nutrisi. Dengan demikian, biomassa lignoselulosa perkebunan sawit khususnya TKS dapat dioptimalkan pemanfaatannya.","PeriodicalId":197056,"journal":{"name":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-07-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"WARTA Pusat Penelitian Kelapa Sawit","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.22302/iopri.war.warta.v28i2.108","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa produksi daging sapi Indonesia dari tahun ke tahun cenderung stagnan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan daging nasional. Upaya pemerintah melalui Permentan No. 48/Permentan/PK.210/10/2016 belum mampu mengatasi masalah tersebut, sementara keberhasilan program swasembada daging selalu dihadapkan pada masalah ketersediaan pakan yang berkualitas dan terjangkau. Berbagai jenis biomassa lignoselulosa sebagai produk samping produksi minyak sawit seperti tandan kosong sawit (TKS), solid palm oil mill effluent (POME), dan bungkil inti sawit (BIS) tersedia dalam jumlah yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara sustain dan massal, padahal potensinya sebagai bahan pakan ruminansia sangat besar. Hal ini karena sumber biomassa tersebut mengandung nutrisi yang cukup tinggi, baik berupa protein maupun lemak. Namun, terdapat beberapa faktor pembatas seperti kandungan lignin dan serat kasar yang tinggi, sehingga menyebabkan rendahnya nilai palatabilitas dan tingkat kecernaan. Untuk mengatasi hal tersebut sekaligus meningkatkan nilai nutrisi biomassa lignoselulosa sebagai bahan pakan dapat dilakukan dengan pretreatment melalui pendekatan kombinasi metode fisik, kimiawi, dan biologis. Metode pretreatment biomassa lignoselulosa seperti TKS menggunakan kombinasi fiber cracking technology (FCT) dan urea 5%, kemudian dilanjutkan dengan fermentasi menggunakan jamur pelapuk putih (JPP) seperti Phanerochaeta chrysosporium, Marasmius sp., Penicillium verruculosum, Tremetes vesicolor, Marasmiellus palmivorus, Pleurotus floridanus, dan Ganoderma lucidum merupakan pendekatan yang potensial dalam meningkatkan derajat delignifikasi dan nilai nutrisi. Dengan demikian, biomassa lignoselulosa perkebunan sawit khususnya TKS dapat dioptimalkan pemanfaatannya.
油棕种植园生物纤维素的利用和作为潜在牲畜饲料原料的准备
统计中心(BPS)报告称,印尼牛肉年的生产往往停滞不前,无法满足国家肉类的需求。政府通过48号/议会/PK的努力。2016年21 /10/ 10未能解决这一问题,而肉类自给自足项目的成功一直面临着高质量、可负担得起的饲料供应问题。作为油棕(TKS)生产的副产品,固体棕榈油油厂(POME)和棕榈油岩心豆瓣(pimp)可以获得丰富的、未被替代和大量使用的油棕。这是因为生物质的来源既含有足够的营养物质,也包括蛋白质和脂肪。然而,有几个限制因素,如高密度褐煤和粗纤维,导致质量低和通用性。克服这一点,同时增加作为一种饲料成分的生物聚氨酯的生物质素的营养价值。进行痛苦lignoselulosa生物量像TKS使用光纤组合方法破解技术(FCT)和5%的尿素,随后用白蘑菇pelapuk发酵(JPP)正如Phanerochaeta chrysosporium Marasmius sp。、青霉verruculosum Tremetes vesicolor, Marasmiellus palmivorus, Pleurotus floridanus, Ganoderma lucidum是潜在的方法在促进度delignifikasi和营养价值。因此,特别是TKS,油棕种植园的生物纤维素生物量可以优化。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
0
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:481959085
Book学术官方微信